Sepucuk Surat untuk Teman
Kemayoran – Jakarta
Kepada perempuan yang mengisi hari-hariku di Jakarta.
Hai, apa kabar teman?
Semoga kamu selalu baik di sana.
Mungkin sejak menerima dan membaca namaku di baris pengirim, dahimu sudah berkernyit bingung. Atau bahkan senyuman menyebalkan sedang terkembang di wajahmu, seperti biasa saat kamu menggodaku. Aku jarang bicara lebar. Sedang kamu juga sering memarahiku karena tidak membalas pesanmu di telepon. Jadi, sekalian saja ku tulis surat ini. Sebagai tempat untuk kutuangkan segala kesah. Untuk kamu, temanku yang berharga sejak kecil.
Aku tahu kamu tidak suka membaca. Apalagi sampai berlembar-lembar seperti rangkuman materi biologi dari bu Erni saat kita SMA dulu. Karena itu, kutuliskan perihal 3 hal saja untuk kamu baca.
Pertama, kabarku cukup baik, teman. Di sini sedang musim gugur. Cuacanya lebih sering dingin dan mendung. Namun, aku tidak perlu cemas karena ada syal dan sarung tangan yang kamu berikan saat pertama kali belajar merajut dulu. Meski warnanya agak memalykan- merah muda seperti warna favoritmu, namun kuakui ini menghangatkanku dengan baik. Lalu, untuk saat ini kelasku sudah libur. Jadi aku lebih sering menghabiskan waktu untuk bolak-balik apartemen dan perpustakaan kota. Sekedar mengulang materi dan mempersiapkan studi untuk semester depan nanti.
Terus terang aku cukup nyaman berada di sini. Apalagi, di sini dekat sekali tempatnya dengan klub bola idolaku. Tapi, tetap saja. Di sini aku tidak bisa menemukan bakso daging kesukaanku, apalagi yang seenak punya bang Amin langganan kita. Bakso daging komplit seperti yang biasa kita pesan di kantin belakang saat kamu memaksaku ikut bolos kelas. Ah, aku jadi lapar. Cukup.
Lalu, kamu sendiri apa kabar, teman? Kamu masih suka bangun kesiangan? Bagaimana kuliahnya? Lalu, bagaimana juga dengan dia? Kamu masih bersamanya? Terus terang, aku tidak pernah menyangka, teman. Saat malam perpisahan sekolah, kamu menghampiriku yang duduk di pojokan dengan senyum girangmu. Mengatakan kalian sudah bersama. Dia yang selalu kamu kagumi sejak hari pertama masa orientasi, kan? Kakak kelas sempurna yang didambakan semua orang, seperti celotehmu. Aku senang keinginanmu terkabul. Semoga dia baik untukmu.
Kedua, permohonan maaf yang seharusnya aku sampaikan sejak awal. Teman, maafkan aku karena tidak berpamitan dari awal. Dan mendiamkan pesanmu hingga sekarang. Bukan karena aku menganggapmu tidak penting. Atau aku yang jadi berkepala besar karena sudah pindah ke negeri orang, jauh dari komplek perumahan kita yang kadang suka banjir saat sudah bulan September. Bukan.
Teman, aku hanya merasa tidak sanggup mengucapkan salam perpisahan. Karena aku tahu, begitu mendengar kabarku, wajahmu yang biasa cerah akan jadi cemberut berminggu-minggu. Tidak mau bicara, atau bahkan meminta untuk tidak jadi pergi. Dan kamu tahu, seperti biasa, aku tidak pernah bisa menolak permintaanmu. Namun, aku sudah di sini. Jauh darimu. Jadi, maafkan aku, ya?
Kamu tahu, teman. Lagipula mana mungkin aku bisa lupa padamu. Ingat tidak? Saat masih di sekolah dasar, saat aku akan ikut Mama pulang kampung ke Surabaya untuk seminggu. Kamu yang dengar berita ini dari bundamu, langsung datang mengetuk pintu rumahku. Menemui Mama dan minta agar aku tetap tinggal. Karena kamu sudah tak sabar mengajakku keliling komplek dengan sepeda barumu. Jadinya, selama seminggu penuh aku di rumah hanya dengan Bi’ Sri. Karena aku juga lebih memilih untuk tinggal dan menghabiskan waktu berdua. Bersamamu.
Ketiga. Teman, bait terakhir ini sejujurnya adalah sebenar-benarnya alasanku menulis surat. Kamu ingat? Kamu pernah bertanya tiba-tiba, saat kita sedang bosan menunggu bus pulang sekolah. 'Apa hal yang paling kuinginkan di dunia ini'. Namun kemudian aku hanya diam dan menatapmu lekat. Lalu kamu mengomel karena aku hanya diam tidak menjawab. Teman, jawabannya sederhana. Itu adalah kamu. Dan selalu kamu sejak dulu.
Kamu tahu? Mengapa aku memilih untuk pergi jauh, tidak jadi masuk universitas negeri seperti yang sudah kita pilih bersama dulu? Ingat tidak, saat pesta perpisahan sekolah. Malam itu saat menunggumu, aku ingin bilang ini padamu. Namun saat kita bertemu, kamu datang bersama senyum bahagia dan cerita barumu dengan lelaki itu, lelaki yang sudah lama kamu dambakan. Dan akhirnya bisa kamu dapatkan. Aku turut senang saat itu untukmu. Namun duniaku sendiri rasanya runtuh. Karena aku pun sebenarnya mencintaimu. Kamu, temanku yang berharga sejak dulu.
Maaf berbulan-bulan ini aku memilih menjauh. Karena kamu adalah teman kecilku, sekaligus orang yang kuharapkan jadi teman hidupku sampai tua nanti. Aku takut tidak akan sanggup, melihat kamu bersama sosok lain yang bisa jadi teman barumu dan bahkan lebih.
Teman, jika kamu tanya, aku tidak bermaksud merusak hubungan kita dengan perasaan jujurku dalam surat ini. Namun aku hanya ingin tidak menutupi sesuatu darimu lagi. aku ingin kembali menjadi temanmu yang baik. Sama sebagaimana dulu. Karena aku merindukanmu, sebagai teman baikku.
Minggu depan, aku akan pulang ke Jakarta. Kuharap kita masih bisa tetap berteman baik. Sama seperti bagaimana dulu. Sampai jumpa nanti, ya?
Manchester – Inggris
Tertanda, teman baikmu.
Comments
Post a Comment